mental
mental health and mental training
News and Eventsunited nationsPeran Kesehatan MentalContact UsWelcomeNews and EventsMerekrut KaryawanMalu dan MasalahnyaTopeng KepribadianTumbuh Kembang AnakProklamasiNews and EventsIBADAH PUASAGANGGUAN JIWAPembangunan Kesehatan JiwaMekanisme & Fenomena KerjaAchievement Motivation Training (AMT)News and EventsALBERT EINSTEINMakalah 1Makalah 2Makalah 3Image GalleryMakalah 4News and EventsMAKALAH 5MAKALAH 6FeedbackContact UsImage GalleryWelcomeNews and EventsServicesAboutFeedbackContact UsImage GalleryWelcomeNews and EventsServicesAboutFeedbackContact Us
Tumbuh Kembang Anak
Oleh  : Wierianto Prasodjo

Pendahuluan
Anak sebagai generasi penerus merupakan harapan orang tua dan kita sekalian agar menjadi anak yang cerdas,
mandiri dan berguna bagi sesamanya.
Tumbuh kembang anak tidak pernah terlepas dari kondisi lingkungan, orang tua, pola asuh yang diterapkan.
Keluarga merupakan sarana bagi anak untuk mempersiapkan dirinya dalam menghadapi perubahan-perubahan
dilingkungannya.
Ketidaktahuan tentang pengetahuan perihal tumbuh kembang anak, khususnya mental anak akan merupakan
penyulit bagi anak untuk mengembangkan dirinya.

Kondisi Keluarga
Keluarga di Indonesia pada umumnya merupakan extended family artinya peran nenek serta keluarga ayah
dan ibu ikut serta dalam berinteraksi dengan anak. Sedangkan di negara-negara yang sudah maju menganut
nuclear family artinya dalam keluarga hanya terdapat ayah, ibu dan anak saja.
Oleh karena perkembangan zaman keluarga sudah tidak lagi merupakan suatu unit lagi, tetapi hanya merupakan
kumpulan orang yang saling tidak berinteraksi dan makan sendiri dan masuk tidur sendiri-sendiri.
Jerman pernah mencoba menghapuskan peran keluarga artinya anak-anak yang sudah dipilih ditempatkan dalam
suatu bangsal dengan disiplin yang ketat. Akhirnya gagal dalam tumbuh kembang.
Dengan demikian keluarga merupakan kodrat yang tidak dapat dihilangkan atau dihapuskan perannya terhadap
tumbuh kembang anak.
Peran keluarga terhadap anak adalah mempersiapkan anak dalam beradaptasi dengan dunia luar. Bimbingan
terhadap anak dibutuhkan pengetahuan kesehatan mental.

Faktor Yang Berpengaruh Dalam Tumbuh Kembang Anak
1. Nature
Bakat alamiah sang anak yang diperoleh sejak lahir dan bersifat unik, artinya kemampuan anak terhadap bidang
ketrampilan akan muncul dalam waktunya.
2. Nuture
Nuture atau pola asuh adalah sikap dan perilaku serta perawatan orang tua, lingkungan terhadap anak. Dalam
ilmu kesehatan anak diperlukan imunisasi dasar, gizi yang seimbang dan pemeriksaan berkala untuk memantau
tinggi badan dan berat badan. Hal ini perlu untuk mengetahui secara dini kekurangan gizi.
3. Kecerdasan
Kecerdasan terdapat kecerdasan emosional, kecerdasan intelektual dan kecerdasan spiritual.
- Kecerdasan Emosional
Orang tua dan individu yang mengasuh perlu memberikan emotional coaching agar anak dapat mengelola emosinya
dalam keadaan kecewa, cemas, takut, sedih. Apabila kecerdasan emosional atau EQ berhasil dikembangkan maka
anak akan mampu meraba rasakan orang lain sehingga anak kelak dapat berkomunikasi secara sehat dan timbal balik.
- Kecerdasan Intelektual
Kecerdasan Intelektual atau IQ tidak selalu menentukan keberhasilan anak dalam tumbuh kembang dan bermanfaat
di kemudian hari. Orang tua harus memberikan gizi yang seimbang agar perkembangan anak optimal.
- Kecerdasan Spiritual
Kecerdasan spiritual  atau SQ jarang dikembangkan sehingga anak kurang mengenali jenis kecerdasan ini. SQ
mendorong anak untuk berinteraksi dengan Allah, mematuhi perintah Allah sesuai dengan tingkat perkembangannya
dan kelak di kemudian hari akan gemar mencari ridho Allah. Orang tua harus memberi contoh bagaimana mematuhi
perintah Allah serta memberikan bimbingan agar anak terbiasa melakukan perintah Allah dari hal yang sederhana
sampai rela berkorban untuk memberikan perhatian kepada sesamanya.
4. Basic Trust
Orang tua dan lingkungan harus memberikan rasa aman dan nyaman kepada anak agar anak tidak jatuh kedalam
keadaan mistrust yang akan merupakan bibit gangguan mental di kemudian hari. Anak tidak nyaman dengan orang
disekelilingnya dan menaruh kecurigaan yang  tidak beralasan.
5. Tokoh Identifikasi
Tumbuh kembang anak diperlikan tokoh identifikasi atau orang yang dapat di kagumi dan menjadi panutan dalam
kehidupan sehari-hari. Orang tua mau tidak mau harus menguasai ilmu akhlaq agar siap untuk menjadi tokoh
identifikasi.
6. Budaya
Anak yang dibesarkan di Australia lebih asertif dan lebih mahir bergaul dengan sesamanya. Ia lebih mantap
dalam berbicara dengan orang-orang disekitarnya meskipun baru dikenalnya. Anak Australia mampu melakukan
permainan dengan orang yang baru dikenalnya, ia tidak diliputi rasa ragu-ragu atau takut.
7. Sosio Ekonomi
Anak berlainan dengan orang dewasa. Apabila orang dewasa bekerja untuk mencari nafkah maka anak bekerja
sama maknaya dengan bermain. Dengan demikian orang tua tidak memberikan tugas-tugas akademis sehingga
anak kehilangan waktunya untuk bermain. Orang tua yang cukup dalam  bidang sosio ekonomi maka orang tua
ini lebih mampu memberikan mainan-mainan untuk memberikan rangsangan kepada anak sehingga tercapai
tumbuh kembang yang optimal.
8. Waktu
Waktu diperlukan untuk menemani anak, memahami anak, memberikan bimbingan apabila anak mengalami kesulitan.
Orang tua mau tidak mau harus menyediakan waktu untuk bermain dengan anak atau mengajak anak mengenali
dunia luar dirinya. Orang tua harus menjadi sahabat anaknya tanpa harus megeritik apabila anak membuat
kesalahan. Memberikan pengetahuan tentang apa yang dilarang lebih baik bila dibandingkan menghukum
apabila anak melakukan kesalahan.

Ketrampilan Anak
Anak tidak segera mempunyai ketrampilan tetapi anak harus dilatih untuk mempunyai ketrampilan. Berlainan
dengan ayam atau itik segera sesudah menetas sudah mahir jalan atau mahir berenang. Sepintas anak dirugikan
karena tidak segera memiliki ketrampilan tetapi kerugian ini justru merupakan keuntungan karena anak diberikan
kesempatan untuk memilih sendiri ketrampilan yang disukai.

Perbedaan Anak Dengan Orang Dewasa
Anak bukan orang dewasa dalam bentuk mini  karena anak seluruh sistemnya sedang berkembang. Orang dewasa
sudah berkembang sistem yang ada pada dirinya. Mengasuh anak harus sabar dan menunggu sistem yang
dipunyainya  berkembang secara optimal.

Stages Of The Life Cycle
Erikson membagi tahapan perkembangan sebagai berikut :

Infancy 0 - 1 tahun, krisis trust vs mistrust, figure yang bermakna ibu atau pengganti ibu, tugas dalam masa ini
adalah mengekspresikan kekecewaan. Sangat bergantung dengan ibu.

Toddler 1 - 3 tahun, krisis autonomy vs shame and doubt, figure bermakna orang tua, tugas dalam masa ini
bicara, jalan mengemukakan keinginan. Tahap ini harus dimulai menunda untuk merasakan kenikmatan atau
kesenangan.

Early Childhood 3 - 6 tahun, krisis inisiative vs guilt, figure bermakna seluruh anggota keluarga, tugas
mengembangkan perbendaharaan kata-kata, berinteraksi dengan seluruh kelompok keluarga. Dimulai bergaul
dengan anak sebayanya.

Middle Chilhood umur 6 - 12 tahun, figure bermakna orang-orang yang ditemui di sekolah, dan tetangga di
lingkungannya. Krisis pada masa ini industry vs inferiority, tugas dalam masaa ini meningkatkan aktivitas jasmani
bersaing. Berhubungan dengan kekuasaan dalam lingkungan sekolahnya.

Adoleacence umur 12 - 18 tahun, krisis pada masa ini memiliki identitas vs kekacauan peran, figure bermakna
kelompok umur sebayanya, pemimpin nasional yang dapat dijadikan model, tugas dalam masa ini mandiri dari
keluarga. Dipengaruhi oleh kelompok sebayanya. Mulai melakukan aktivitas seksual. Mulai memilih tujuan hidupnya.

Penutup
Uraian ini mudah-mudahan bermanfaat bagi orang tua dalam membimbing anak-anaknya.






Kepustakaan : Kaplan, Sadock, Sinopsis Psikiatri, Edisi VII, tahun 1996.



MATERNAL OVER PROTECTION

Oleh : Wierianto Prasodjo

Dalam keadaan biasa memanjakan anak memang wajib khususnya pada bayi namun apabila pola asuh memanjakan
ini dipertahankan terus menjadi tidak baik dampaknya.
Maternal Over Protection merupakan pemanjaan anak yang berlebihan dengan ciri-ciri sebagai berikut :
1.  Anak selalu dipasok kebutuhannya baik dalam bentuk materi maupun kejiwaan.
2.  Ibu senantiasa kwatir akan keselamatan dan kesejahteraan anak sehingga ruang lingkup anak menjadi di-
     batasi baik dalam hal pergaulan maupun dalam hal bekerja.
3.  Anak yang diperlakukandemikian tidak pernah diajak untuk menunjukkan perjuangan untuk memenuhi kebutuhannya.

Keadaan dalam dunia nyata
1.  Untuk memperoleh perhatian dan fasilitas amat sukar.
2.  Kompetitif dalam hidup amat ketat dan berat.
3.  Lapangan pekerjaan amat sulit untuk didapat dalam hidup.

Dampak dimanja pada diri anak
1.  Bersifat egoistik dan selfish.
     Anak tidak terbiasa mempelajari kepentingan sesamanya dan tidak terbiasa mengalami pengorbanan perasaan maupun uang.
2.  Gangguan kepribadian
     Gangguan kepribadian amat menonjol pada anak yang dimanja, ia senantiasa tergantung atau DependencePersonality Disorder.
     Dalam hal nilai kebenaran maka anak ini menganggap kehendaknya dan bicaranya merupakan hukum kebenaran yang harus di
     anut oleh orang-orang di sekelilingnya.
3.  Tidak dapat berjuang
     Anak yang dimanja selalu menghindari kesulitan dan kalau ia mempunyai wewenang maka akan menyalahgunakan wewenangnya.
4.  Memanjakan dirinya sendiri
     Pemanjaan berupa maternal over protection menyebabkan anak ini akan memanjakan dirinya sendiri. Ia tidak mau belajar mana
     yang benar mana yang salah.
5.  Tidak dapat memberikan layanan
     Anak yang terbiasa dilayani karena maternal over protection tidak berhasil memberikan layanan. Toleransi terhadap orang lain
     sukar dilakukannya dan  anak ini menjelma menjadi individu yang egocentris.
6.  Pengelolaan uang yang terganggu
     Kebutuhan uang dipasok dalam jumlah yang tidak terbatas karenamaternal over protection. Oleh karena disiplin diri yang tidak
     terbentuk maka alokasi dana tidak efektif dan tidak tepat guna. Jumlah berapapun akan dihabiskan tanpa ada perhitungan.

Maternal over protection merupakan pola asuh memanjakan yang dilakukan terus menerus oleh Ibu maupun Ayah. Anak tidak terbiasa
untuk berusaha sendiri. Creativity menjadi tidak berkembang. Pola asuh yang baik adalah menyadarkan anak bila bertindak salah dan
memberikan arahan untuk bertindak yang benar.

Archive Motivation Training
AMT perlu dilatihkan kepada anak untuk senantiasa berjuang mecapai prestasi. Prestasi bisa dalam hubungan interpersonal, prestasi
bekerja, kedisiplinan  dan pola hidup yang teratur.
AMT dapat dilakukan secara sendiri maupun dilakukan bersama pembimbing yang memang ahli dalam bidang mental.

Solusi anak yang dimanja
1.  Mempelajari Ilmu kesehatan mental agar mau memperbaiki mentalnya.
2.  Belajar komunikasi dengan manusia lainnya baik dalam bekerja, lisan maupaun tulisan.
3.  Memberikan arahan dan bimbingan mental.




MATERNAL DEPRIVATION

Maternal deprivation merupakan sikap Ibu terhadap anaknya dengan dampak yang tidak kita inginkan.
Sikap Ibu seperti :
1.  Selalu memarahi dan membentak anaknya sehingga anaknya tidak merasa memperoleh lindungan.
2.  Anak tidak pernah dibenarkan kendati memiliki prestasi belajar yang baik.
3.  Ibu senantiasa menerapkan hukuman cambuk dengan rotan bila menganggap anaknya bersalah.
4.  Tidak pernah terbina hubungan komunikasi timbal balik yang hangat antara Ibu dan anaknya.

Dampak pada anaknya :
1. Senantiasa merasa kesepian dan merasa dirinya tidak diterima.
2. Pada waktu berkeluarga sikap istri yang tidak menurut dan menelantarkan suami terasa lebih berat ketimbang anak yang tidak
    mengalami maternal  deprivation.

Sebab musabab maternal deprivation :
-  Gangguan kepribadian pada diri Ibu.
-  Unwanted child. Dr Melly Budiman SP KJ Psikiater anak berkata apabila tidak menginginkan anak  lebih baik tidak usah
   melahirkan anak karena anak akan menderita dalam hidupnya.




News and Eventsunited nationsPeran Kesehatan MentalContact UsWelcomeNews and EventsMerekrut KaryawanMalu dan MasalahnyaTopeng KepribadianTumbuh Kembang AnakProklamasiNews and EventsIBADAH PUASAGANGGUAN JIWAPembangunan Kesehatan JiwaMekanisme & Fenomena KerjaAchievement Motivation Training (AMT)News and EventsALBERT EINSTEINMakalah 1Makalah 2Makalah 3Image GalleryMakalah 4News and EventsMAKALAH 5MAKALAH 6FeedbackContact UsImage GalleryWelcomeNews and EventsServicesAboutFeedbackContact UsImage GalleryWelcomeNews and EventsServicesAboutFeedbackContact Us
Footer message