PERAN KESEHATAN MENTAL DALAM MENINGKATKAN KUALITAS KERJA
oleh : Wierianto Prasodjo
Pendahuluan
Mental merupakan bagian immateri manusia yang meliputi kognitif, afektif, perilaku,
suara hati, keinginan, daya nilai sosial, meskipun dapat disebutkan satu persatu
secara terpisah dalam kenyataannya saling terkait.
Kebanyakan individu tidak menghiraukan keberadaan mental dalam dirinya sehingga
perkembangan mentalnya tidak terjadi sebagaimana mestinya.
Kualitas kerja seseorang sangat ditentukan oleh taraf kesehatan mentalnya, atas
dasar ini maka diperlukan asupan pengetahuan kesehatan mental.
Dalam menempuh upaya untuk meningkatkan taraf kesehatan mentalnya maka
seseorang harus mempelajari Ilmu Kesehatan Mental sehingga ia mampu melatih
diri serta mengarahkan perkembangannya sesuai dengan bakatnya.
Manusia divonis untuk ada tanpa mengetahui tugasnya, keadaan ini akan menyebabkan
timbulnya anxietas yaitu suatu kondisi yang tidak menyenangkan, suatu perasaan
subjektif yang sukar didefinisikan dan akan timbul apabila kita membayangkan hal-hal
yang buruk yang akan terjadi dan merugiakn dirinya.
Banyak individu yang menganggap Ilmu Kesehatan Mental tidak penting, artinya
tanpa mempelajari Ilmu Kesehatan Mental seseorang mampu mencapai jabatan tinggi
serta mampu pula mengumpulkan harta yang berlimpah. Namun sejak ditemukan
seseorang yang mengalami rasa sedih yang mendalam dan menolak hidup sedangkan
ia mantan pejabat tinggi, hartanya berlimpah, isterinya sayang dengan dirinya begitu
pula putera puterinya. Dalam kasus ini harta yang banyak tidak menyebabkan siempunya
bergembira bahkan ingin mati, ia tidak pernah mempelajari Ilmu kesehatan Mental
sebelumnya.
Makalah ini mencoba memberikan gambaran peran Ilmu Kesehatan Mental terhadap
moralitas, kualitas kerja serta hubungan antar sesamanya, khususnya ditempat kerja.
1. Hal-hal yang perlu diketahui tentang manusia
1.1 Manusia lahir tidak berdaya, tidak seperti itik, begitu menetas langsung mempunyai
kemampuan untuk berenang. Manusia harus belajar, berlatih dan mengembangkan
dirinya. Sepintas lalu kondisi ini tidak adil namun justru merupakan keuntungan bagi
manusia karena ia dapat memilih kemahiran yang disukainya. Ketrampilan mental dan
taraf kesehatan mental merupakan keadaan yang diperjuangkan.
1.2 Secara Psikoanalisa diketahui bahwa sebesar 20% dari perilaku kita bersifat irrasional
sehingga kita perlu melatih mental kita agar perilaku yang irrasional yang tidak dapat
dicegah itu jangan sampai merugikan.
1.3 Terdapatnya alam sadar dan alam tidak sadar sebagaimana dikemukakan Freud.
Keberadaan alam tidak sadar dapat menyebabkan keangkuhan yang tidak disadari
dengan ciri tidak mau mengikuti peraturan dalam lingkup kerjanya, dalam masyarakat
lingkungannya.
1.4 Individu dibesarkan dengan mengikuti tradisi tempat hidupnya, bahkan menjadi budak
dari pemimpin tempat ia dibesarkan. Keadaan ini menyebabkan ia diliputi kebiasaan-
kebiasaan yang sama sekali tidak menguntungkan. Pembentukan konsep pikir yang
salah namun diyakini sebagai kebenaran sehingga menyebabkan konflik intra personal
maupun konflik inter personal.
2. Pembentukan moralitas
2.1 Moralitas merupakan kemampuan untuk membedakan mana yang benar dan mana
yang baik begitu pula kemampuan membedakan mana yang salah dan mana yang
buruk. Tanpa kemampuan ini seseorang akan mengalami kesulitan karena ia akan
cenderung menyalahi peraturan.
2.2 Konsep moralitas mencakup :
2.2.1 Aspek Kognitif : Role taking, reasoning, decision making.
2.2.2 Aspek Afektif : Empathy, altruism, care
2.2.3 Aspek Perilaku : Amal, soleh, berwasiat kebenaran dan sabar.
Tanpa moralitas maka seseorang tidak mungkin tumbuh kembang.
2.3 Seseorang dikatakan memiliki standar moral yang tinggi :
2.3.1 Mempunyai kesadaran dan pengertian (Cognitive awareness) mengenai
kebutuhan dan perasaan orang lain.
2.3.2 Kemampuan untuk prihatin akan perasaan orang lain (affective)
2.3.3 Mengungkapkan kesadaran dan keprihatinannya itu dalam tingkah lakunya
terhadap orang lain ( behaviour)
Standar moral yang tinggi diperlukan untuk bekerja dalam kelompok, yang merupakan
dinamika kelompok yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas kerja dan memiliki
dampak terhadap produksi perusahaan.
Kekurangan dalam salah satu dari ketiga aspek ini :
- Karakter moral yang kurang sempurna
( Less-than-perfect moral character)
- Kemampuan mengerti orang lain
Prihatin dengan orang lain
Diterjemahkan dalam tindakan nyata
Seringkali didapatkan diskrepansi yang sangat besar antara apa yang dipercayai
sebagai benar dengan apa yang dilakukan dalam kenyataan - dilema moral.
Derajat Moralitas ditentukan oleh:
~ Analisa perilaku yang tampak (apa)
~ Analisa motif yang mendasari perbuatan itu (mengapa)
~ Mengapa > apa
Teori-teori yang mencoba menjelaskan perkembangan moral :
- Social Learning theory - fokus pada dimensi perilaku
- Psychoanalytic theory - fokus pada dimensi afektif
- Cognitive theory - fokus pada dimensi kognitif
Gangguan mental yang berpengaruh terhadap kualitas kerja
Gangguan Somatoform
Ciri utama gangguan ini adalah adanya keluhan-keluhan gejala fisik yang berulang-
ulang disertai dengan permintaan pemeriksaan medik, meskipun sudah berkali-kali
terbukti hasilnya negatif dan juga sudah dijelaskan oleh dokternya bahwa tidak
ditemukan kelainan yang menjadi dasar keluhannya. Penderita juga menyangkal
dan menolak untuk membahas kemungkinan kaitan antara keluhan fisiknya dengan
problem atau konflik dalam kehidupan yang dialaminya, bahkan meskipun didapatkan
gejala-gejala anxietas dan depresi.
Gangguan Kepribadian Dissosial
Gangguan kepribadian ini biasanya menjadi perhatian disebabkan adanya perbedaan
yang besar antara perilaku dan norma sosial yang berlaku dan ditandai oleh :
a. Bersikap tidak peduli dengan persaan orang lain.
b. Sikap yang amat tidak bertanggung jawab dan berlangsung terus menerus serta
tidak perduli terhadap norma, peraturan dan kewajiban sosial.
c. Tidak mampu memelihara suatu hubungan agar berlangsung lama, meskipun tidak
ada kesulitan untuk mengembangkannya
d. Toleransi terhadap kekecewaan sangat rendah dan ambang yang rendah untuk
melampiaskan agresi, termasuk tindakan kekerasan.
e. Tidak mampu mengalami rasa salah dan menarik manfaat dari pengalaman, khususnya
dari hukuman.
f. Sangat cenderung menyalahkan orang lain atau menawarkan rasionalisasi yang masuk
akal, untuk perilkau yang membuat karyawan konflik dengan masyarakat.
Gangguan Kepribadian Emosional Tidak Stabil
Terdapat kecenderungan yang mencolok untuk bertindak secara impulsif tanpa
mempertimbangkan konsekuensinya, bersamaan dengan ketidakstabilan emosional.
Dua varian yang khas adalah berkaitan dengan impulsivitas dan kekurangan pengendalian
diri.
Episode Depresif
Gejala Utama :
- Afek depresif
- Kehilangan minat dan kegembiraan, dan
- Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah ( rasa lelah
yang nyata sesudah kerja sedikit saja ) dan menurunnya aktivitas.
Gejala lainnya :
- kosentrasi dan perhatian yang kurang
- harga diri dan kepercayaan diri berkurang
- gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna
- pandangan masa depan yang suram dan pesimistis
- gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri
- tidur terganggu
- nafsu makan berkurang
Dengan mempelajari kesehatan mental kemudian dilanjutkan dalam tindakan nyata maka
gangguan mental ini dapat dicegah.
PENUTUP
Sumber penderitaan adalah bodoh, tamak, melanggar peraturan. Sseorang yang tahu
bahwa dirinya bodoh maka ia bukan bodoh lagi. Hal ini karena ia akan mencari tahu tentang
Ilmu Pengetahuan tentang mentalnya.
KEPUSTAKAAN
- Maslim R. Diagnosis Gangguang Jiwa, Rujukan Ringkas dari PPDGJ III

|